Saturday, June 22, 2024

Itu semua sudah cukup.

Mengulik apa yang dirasa dan mencoba dituangkan dalam kata-kata...
 
Bertemu dan merasakan sebuah perasaan yang sangat sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat agar dapat mewakilinya. Karna bagiku perasaan ini terlalu beragam rasanya seperti layaknya permen nano-nano. Tapi belum cukup mewakilkan jika aku meminjam kata nano-nano.
 
Atau mungkin tidak semua yang kita rasa bisa terwakilkan oleh beberapa susunan abjad yang terangkai dalam kata. Terkadang pesan bisa tersampaikan hanya melalui sentuhan tangan, tatapan mata, sentuhan bibir, dan hangatnya pelukan tubuh.
Tapi itu memang betul adanya.
 
Bagaimana mungkin air mata bisa jatuh ketika aku mencium lembut bibirnya? Dan itu terjadi.
Bagaimana mungkin dadaku terasa sesak ketika aku memeluk hangat tubuhnya? Dan itu terjadi.
Bagaimana mungkin hanya dengan melihat matanya yang menenangkan itu aku seketika merasa nyaman berada di dekatnya? Dan itu terjadi.

Semakin aku mencari kata-kata yang tepat semakin aku tidak menemukannya. Karna aku hanya ingin berada di dekatnya, bagiku itu sudah cukup. Berada tenang di dekapannya membuatku berhenti mencari persamaan kata dari perasaan ini. Dan saat itu pun aku tau, aku sudah berhenti mencari. Berhenti mencari makna perasaan ini, karna bagiku selama semuanya yang kulakukan itu denganmu aku merasa penuh. 



4 tahun lamanya dari tulisan terakhir yang dipost.

Tanpa ada draft tulisan yang tersimpan. Tanpa ada waktu menuangkan pikiran dalam kata-kata. Dunia berputar terlalu cepat dan aku kewalahan. Sering terjadi bahkan aku sampai harus setengah mati dikejar oleh waktu. Terlalu banyak hal yang terjadi...

Membaca ulang tulisan-tulisan polos di sini membuatku rindu dengan dirku yang dulu. Kehidupanku yang dulu. 

Memangnya ada yang salah dengan kehidupan sekarang? 

Tidak. Tidak ada yang salah dari kehidupan yang dulu maupun sekarang. Sedang tidak mencari kambing hitam atas lelahnya tubuh ini mengikuti arus kehidupan yang terus membawaku ke dalam air mata dan rasa sakit (dan juga tawa bahagia tentunya).

Aku berjanji akan lebih meluangkan waktu untuk menulis. Belajar untuk lebih mengenal diri sendiri (lagi).... 

Friday, September 4, 2020

Ah.

Sekarang rasanya susah sekali untuk dapat mengungkapkan apa yang sedang dipikirkan, dirasakan dalam kata-kata. Seperti tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk dapat mewakilkan itu semua. Atau lebih kepada rasa malas untuk menguraikan apa yang dirasakan? Karna mungkin (atau memang) tidak tau sebenarnya apa yang sedang dirasakan.
 
Atau memang begini tahapan yang harus dilakoni seorang dewasa?
Menjadikan semua hal menjadi lebih rumit dari sebelumnya. Semakin tau banyak hal, semakin tidak sederhana cara berpikir kita.
Ya memang betul sih. Semakin kita tau banyak, semakin kita overthinking. hehehe
 
Rindu sekali tenggelam dalam kata-kata sampai bisa kembali lega..... 

Saturday, April 11, 2020

Jemari ini kaku.
Berhenti.
Hilang bersama kabar terakhir yang kau tinggalkan.
Mengetuk dinding rindu yang seakan runtuh oleh tangis dalam diam.
Adakah kau tau?

Aku rasa kau tak perlu tau juga.
Biarlah kau kembali pulang.
Pulang. Teduh bukan?

Biar. Biar saja tempat ini menjadi sarang laba-laba kelak.
Tak berpenghuni. Tak ada rasa.
Gelap.

Saturday, April 2, 2016

Terimakasih.

Bila aku tau jika ini akan menyakitkan, kenapa aku memilih untuk bertahan?
Bila aku tau ini akan sungguh terasa berat, kenapa aku tetap ingin ada di sini?
Sungguh logika berpikir tidak berlaku untuk urusan yang satu ini.
Bagaimana mungkin ketidaksempurnaan dapat menjadi sebuah kesempurnaan?
Ketika yang diinginkan hanyalah semua yang indah tapi yang didapatkan hanyalah tangis.
Di titik ini aku tau.
Seni dimana menemukan keindahan di balik tangis.
Tulisan ini kupersembahkan kepada kesabaran dan ketulusan.
Merekalah aktor utama dalam semua ini.